
🌾 Kisah Mengharukan Pria Bule Mualaf di Bali: Tersentuh Hati Melihat Wanita Muslim Berkaos Kaki di Tengah Sawah
Bali, Indonesia — Di tengah hijaunya hamparan sawah di Ubud, Bali, sebuah kisah mengharukan menyentuh hati banyak orang. Seorang pria bule asal Australia yang baru saja memeluk Islam, tanpa sengaja bertemu dengan seorang wanita muslim yang tengah menanam padi. Wanita itu tampak sederhana, memakai jilbab lebar, pakaian longgar, dan sepasang kaos kaki hitam yang kontras dengan lumpur sawah.
Pertemuan sederhana itu menjadi awal perubahan besar bagi pria bernama Michael (32 tahun), yang kini memilih nama Islam Mikail setelah resmi menjadi mualaf dua bulan lalu di Masjid Agung Denpasar.
🌱 Awal Pertemuan yang Tak Disengaja
Saat itu, Mikail sedang melakukan perjalanan spiritual di pedesaan Bali. Ia tengah mencari ketenangan dan makna hidup baru setelah merasa hampa dengan kehidupan modern di negaranya. “Saya ingin belajar tentang makna tawakal dan kesederhanaan,” ujarnya ketika ditemui tim kami.
Di salah satu perjalanan pagi, Mikail berhenti di pinggir jalan karena terpukau melihat pemandangan sawah yang begitu indah. Namun, bukan pemandangan alam yang menarik perhatiannya, melainkan sosok wanita muda yang menunduk sabar, menancapkan bibit padi satu per satu sambil melantunkan ayat suci dengan suara pelan.
“Dia berbeda. Tidak seperti orang lain di sawah itu. Saya lihat dia memakai kaos kaki, bahkan di tengah lumpur. Saya penasaran kenapa,” kenang Mikail.
🌾 Keindahan dalam Kesederhanaan
Wanita itu bernama Aisyah (27 tahun), seorang petani muda asal Lombok yang menikah dengan pria Bali dan kini tinggal di daerah itu. Ia dikenal masyarakat sekitar sebagai wanita yang rajin dan taat beribadah, bahkan saat bekerja di sawah pun tetap menjaga aurat dengan rapi.
Saat Mikail menghampirinya dan bertanya dengan bahasa Inggris terbata, Aisyah hanya tersenyum dan menjawab lembut dalam bahasa Indonesia sederhana. Seorang tetangga akhirnya membantu menerjemahkan percakapan mereka.
“Dia bilang, ‘saya pakai kaos kaki bukan karena dingin, tapi karena Allah perintahkan kami menutup aurat, di mana pun,’” kata Mikail sambil menunduk haru.
Kalimat itu begitu menancap di hatinya. Mikail mengaku, saat itu air matanya hampir jatuh. Ia tak menyangka, seorang wanita di tengah sawah bisa mengajarkan makna ketulusan iman lebih dalam daripada buku-buku yang selama ini ia baca.
🌤️ Cahaya Islam yang Menyentuh
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Mikail kembali datang ke sawah yang sama membawa kamera kecil. Namun bukan untuk mengambil foto, melainkan untuk meminta izin belajar wudhu dan salat dari Aisyah dan keluarganya.
“Saya ingin tahu bagaimana kalian bisa tetap bersih di tengah lumpur,” katanya sambil tersenyum.
Keluarga Aisyah menerimanya dengan hangat. Dari sana Mikail mulai belajar berwudhu dengan air sumur di tepi sawah, belajar shalat di beranda bambu, dan perlahan mulai menghafal surat Al-Fatihah.
“Dia sangat serius, tapi juga sangat rendah hati,” tutur Aisyah. “Saya tak menyangka, kaos kaki yang saya pakai bisa menjadi sebab seseorang mengenal Islam.”
🕊️ Dari Sawah Menuju Syahadat
Beberapa minggu setelah itu, Mikail datang ke Masjid Agung Denpasar. Di hadapan imam dan saksi, ia mengucapkan dua kalimat syahadat dengan suara bergetar. “Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah,” ucapnya dalam bahasa Indonesia yang mulai lancar.
Ketika ditanya apa yang paling berkesan dari perjalanannya menjadi mualaf, Mikail menjawab singkat namun dalam:
“Saya melihat Islam di telapak kaki seorang wanita — bukan di gedung megah, bukan di seminar, tapi di sawah.”
Kini Mikail menetap di Bali dan aktif membantu komunitas muslim di daerah pedesaan, mengajar anak-anak bahasa Inggris sambil belajar Al-Qur’an bersama mereka. Ia juga menulis kisah perjalanannya menjadi buku berjudul “Kaos Kaki di Sawah: Cahaya yang Menyapa di Tanah Bali.”
🌾 Pesan Akhir
Kisah ini menjadi bukti bahwa dakwah tak harus di atas mimbar, dan bahwa keteladanan bisa lahir dari kesederhanaan. Dalam lumpur sawah yang lembut, seorang wanita muslim mengajarkan makna kehormatan dan keimanan yang tulus — dan di sanalah, Allah membuka hati seorang pria pencari kebenaran.
Masyallah